Spesialis Kabel Optik Eropa Ekspansi Indonesia

Jakarta - Vivanco, spesialis peralatan kabel elektronik hingga infrastruktur serat optik dan data center di Eropa, mulai melebarkan sayap bisnisnya di Indonesia. Di bawah bendera PT Afi Inti Mandiri Solusi mereka baru saja meluncurkan produk Structure Cabling System. "Solusi Structure Cabling System milik Vivanco menawarkan data center yang bisa menghemat waktu dan uang bagi pengguna kami," kata Direktur Utama PT Afi Inti Mandiri Solusi, Karunia Wijaya, dalam keterangannya, Jumat (19/9/2014). Kelebihan lain ditawarkan dari Vivanco Structure Cabling System, adalah solusi yang lengkap untuk kebutuhan akan jaringan data, telepon, suara, hingga rack server. Hal ini untuk memudahkan standardisasi pemasangan jaringan data yang baku serta proses audit network. "Saat ini kota-kota besar di Indonesia dihadapkan pada polemik terhadap pemasangan kabel fiber optik yang mengganggu pengguna jalan karena membuat jalanan rusak. Teknologi kabel fiber optik dari Vivanco akan mengatasi masalah itu," ujarnya. Menurut Karunia, kabel serat optik dari Vivanco hanya berukuran 5,5 mm hingga 72 core. Selain itu juga dilengkapi dengan lapisan pelindung berbasis PE untuk menjamin ketahanan dan kekuatan kabel ukuran kecil tersebut. "Keunggulan Vivanco di cabling dan data center adalah adanya jaminan purna jual hingga 25 tahun. Solusi kami ini memang ditujukan untuk institusi keuangan, pemasaran, pertambangan, perkebunan, telekomunikasi dan lainnya pada saat pengembangan kantor cabang yang baru," kata dia lebih lanjut. Teknologi dari Vivanco sendiri berasal dari Jerman. Meskipun produknya dihasilkan melalui proses quality control yang ketat, namun Karunia menegaskan harga jualnya tetap kompetitif untuk pasar di Asia. "Hingga saat ini, Vivanco telah memiliki lebih dari 14.000 titik penjualan dan menduduki peringkat kedua di banyak kota-kota utama di Eropa. Vivanco juga ingin memajukan Indonesia agar bisa masuk era ikut berkembang di pasar teknologi," pungkasnya. (rou/ash)

Onno W Purbo Paparkan Visinya Soal Menkominfo

KOMPAS.com - Nama Pakar IT Onno W. Purbo belakangan banyak disebut sebagai calon kuat untuk posisi menteri Komunikasi dan Informatika di kabinet pemerintahan berikutnya, pimpinan presiden terpilih Joko Widodo. Terlepas dari siapapun yang nantinya terpilih, Onno ternyata memiliki pandangan nasionalis mengenai tugas dan tantangan yang bakal dihadapi oleh pemangku jabatan menteri Kominfo. "Visi saya sederhana saja, yaitu ingin melihat bangsa ini bisa hidup dari otaknya. Istilahnya membuat knowledge-based society, masyarakat berbasis ilmu pengetahuan," kata Onno saat ditemui usai acara peresmian Onno W. Center di Jakarta, Kamis (28/8/2014). Untuk mencapai tujuan itu, Onno menekankan pentingnya mendukung industri teknologi dalam negeri agar jangan sampai kalah dari produk asing seperti yang selama ini terjadi. Dia mencontohkan ranah gadget smartphone yang didominasi merek-merek luar negeri dan diproduksi di luar negeri pula. "Kita harus bisa membawa pabriknya ke sini, tapi tidak bisa begitu saja karena keberadaan pabrik harus ditunjang SDM yang memadai," ujar Onno, seraya menambahkan bahwa hal yang sama juga harus berlaku untuk server layanan internet yang kebanyakan berada di luar Indonesia. Onno juga menyoroti masalah pemerataan akses internet di Tanah Air. "Jangan sampai internet itu cuma bisa diakses di kota-kota besar saja, desa-desa dan daerah semuanya juga harus bisa mengakses," imbuh dia. Onno mengakui bahwa ada banyak tantangan yang harus dilalui untuk merealisasikan pandangan-pandangannya itu. Misalnya saja soal pemerataan internet, kendala utamanya adalah biaya dan keterbatasan SDM yang menguasai aneka persoalan teknis terkait akses jaringan global itu. "PR-nya itu sebenarnya sederhana, tapi susah." Tukang oprek Hari Kamis itu Onno beserta sejumlah tokoh lain meresmikan kehadiran Onno Center, sebuah pusat kegiatan pengembangan riset dan teknologi serta penulisan, terutama soal internet, dengan Onno sebagai tokoh sentralnya. Onno Center bertujuan memperluas kegiatan riset dan penulisan yang selama ini dilakukan oleh Onno sehingga melibatkan lebih banyak pihak. "Jadi, seperti yang selama ini dilakukan saja, tapi lebih masif… Saya ini kan tukang oprek, saya harap ada regenerasi, ada orang-orang lain yang juga melakukan RnD (research and development)," kata Onno. Bidang-bidang yang diprioritaskan Onno Center mencakup pengembangan internet desa, percepatan implementasi internet sekolah, pengembangan sistem operasi open-source, openBTS, dan pengembangan server video streaming. Onno Center sudah menyiapkan agenda kegiatan untuk beberapa waktu ke depan, di antaranya presentasi dalam acara Taiwan-Indonesia ICT Roadshow, 2 September mendatang, IT Camp di Cibubur pada 13-14 September, dan workshop soal Implementasi IP6 dan Enum pada 16 Oktober. Sebagai badan berbentuk yayasan, Onno Center mengandalkan dana operasional dari donasi. "Tapi, berbeda dengan LSM lain yang lebih mengarah ke advokasi, kami tidak menuntut hak, melainkan lebih ke soal penyebaran edukasi," tandas Onno. Editor: Wicak Hidayat

BlackBerry: Messaging Pakai PIN Jauh Lebih Aman

Jakarta - Keputusan BlackBerry untuk membuka akses BlackBerry Messenger (BBM) lintas platform mungkin agak sedikit terlambat jika mengingat kompetitornya sudah berhasil meraih lebih banyak jumlah pengguna. Seperti diketahui, saat BlackBerry akhirnya hadir di iOS dan Android, kompetitor seperti Whatsapp, KakaoTalk, Line, dan sejenisnya sudah punya ratusan juta pelanggan. Bahkan terakhir Whatsapp sudah menembus 500 juta alias setengah miliar. Namun hal itu tak membuat BlackBerry khawatir. Perusahaan teknologi asal Kanada itu merasa yakin ada value added atau nilai tambah yang tak dimiliki kompetitornya, yakni keamanan dan privasi. "Mana yang lebih penting, privasi atau sekuriti? Bagi kami, kedua-duanya itu penting," kata Nader Henein, Regional Director BlackBerry Product Security saat ditemui detikINET di kantor BlackBerry Indonesia, Pacific Place, Jakarta, Jumat (29/8/2014). "Itu sebabnya kenapa BBM menggunakan PIN, karena PIN itu bagian dari privasi dan sekuriti. Makanya sampai sekarang, meskipun sudah multiplatform, kami masih pakai PIN," paparnya lebih lanjut. Seperti kita ketahui, PIN BBM yang dimaksud Nader merupakan kombinasi unik dari huruf dan angka yang jumlahnya mencapai 8 digit. Jumlah ini sendiri jauh lebih banyak dibandikan kombinasi 6 digit PIN ATM yang jadi standardisasi perbankan untuk faktor keamanan. "Saking concern-nya BlackBerry dengan masalah privasi dan sekuriti, tanpa pelanggan sadari kami sudah protect dan provide sekuriti. Sementara kalau dari sisi enterprise, di ponsel itu tak hanya ada data pribadi pengguna, tapi juga data perusahaannya yang ikut dibawa-bawa. Itu sebabnya kami sangat concern dengan masalah privasi dan sekuriti," paparnya lebih lanjut. Dalam kesempatan ini, BlackBerry menegaskan tak ingin membanding-bandingkan dengan kompetitornya seperti Whatsapp yang hanya mengandalkan nomor ponsel sebagai ID penggunanya. Selain telah hadir di iOS dan Android, BBM kini juga telah hadir di platform Windows Phone. Diperkirakan, kombinasi pengguna BBM multiplatform ditambah pengguna BBM dari BlackBerry OS dan BlackBerry 10, total telah mencapai sekitar 100 juta pelanggan.