Akuisisi Rp 902 Triliun Dell Pada EMC Bisa Gagal

Jakarta - EMC menerima tawaran akuisisi USD 67 miliar atau di kisaran Rp 902 triliun dari Dell. Namun pembelian Dell pada EMC yang disebut akusisi terbesar sepanjang masa di jagat teknologi ini masih mungkin gagal karena EMC bisa saja menerima tawaran lebih tinggi dari pihak lain. Ya, dikutip detikINET dari Reuters, Kamis (15/10/2015), EMC masih memiliki periode 60 hari untuk mempertimbangkan tawaran akuisisi lebih baik dari pihak lain, yakni sampai 12 Desember. Jika akhirnya dalam 60 hari itu EMC memilih pihak lain dan membatalkan kesepakatan dengan Dell, maka mereka wajib membayar sekitar USD 2 miliar pada Dell. Lalu adakah kemungkinan perusahaan lain berminat mengakuisisi EMC dan mengalahkan tawaran Dell? Memang vendor seperti IBM, Cisco, Oracle sampai Hewlett-Packard bisa jadi berminat pada EMC. Tapi para analis mengungkap bahwa kemungkinannya kecil. CEO EMC Joe Tucci menyatakan kalau apapun memang masih bisa terjadi dalam masa 60 hari tersebut meski ia menilai sulit melebihi penawaran Dell. Jadi hampir pasti EMC akan menjadi milik Dell, demikian juga anak perusahaannya, VMWare. "Mari kita lihat apakah ada pihak lain yang tertarik. Jadi memang apapun masih bisa terjadi. Tapi harus lebih tinggi dari tawaran USD 67 miliar itu," kata Tucci. Tucci menambahkan kalau EMC akan menjadi perusahaan privat seperti Dell. Sedangkan VMWare yang adalah perusahaan besar di bidang teknologi virtualisasi, akan tetap menjadi perusahaan mandiri yang memperdagangkan sahamnya di bursa. Dell sendiri membiayai akusisi pada EMC antara lain dengan hutang bank sekitar USD 50 miliar. Pembiayaan tambahan berasal dari kocek pendiri Dell, Michael Dell, firma investasi yang dipimpinnya, MSD Partners, lalu firma private equity Silver Lake dan Temasek asal Singapura. (fyk/ash)

Hewlett-Packard Indonesia dilaporkan ke KPPU

JAKARTA. Manajemen PT Kusumomegah Jayasakti berencana melaporkan PT Hewlett-Packard (HP) Indonesia ke Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) karena banyak merugikan pekerja di Indonesia. "Di wilayah DKI Jakarta saja ada sekitar 600 pekerja ditambah karyawan di wilayah lain," kata Direktur PT Kusumomegah Jayasakti, Giri, Jumat (29/8). Giri mengatakan, pihaknya akan mengungkapkan fakta PT HP Indonesia telah melakukan keputusan sepihak yang merugikan PT Kusumomegah Jayasakti sebagai distributor resmi produk HP pada September 2012. Ia menuturkan, PT HP mengambil keputusan sepihak terhadap PT Kusumomegah Jayasakti yang telah memiliki 65 persen pangsa pasar produk perusahaan tersebut. Giri menilai, PT HP telah berbuat melawan hukum terhadap PT Kusumomegah yang berdampak terhadap nasib pekerjanya. "Kami harap perusahaan asing tidak mudah berbuat sewenang-wenang terhadap perusahaan di Indonesia," tegas Giri. Sementara itu pengacara PT Kusumomegah Jayasakti, Yopis Peternalis menyebutkan, pihaknya memenangkan gugatan ganti rugi terhadap grup PT HP di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada Selasa (26/8). PT Kusumomegah Jayasakti mendaftarkan gugatan perbuatan melawan hukum terhadap PT HP I, Subin Joseph, Warga Negara India, PT HP SEA, dan HPC (selaku tergugat I, II, III dan IV) dengan Nomor Perkara : 294/PDT.G/2013/PN.JKT.Sel pada 8 Mei 2013. Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan mengabulkan tuntutan PT Kusumomegah Jayasakti terhadap PT HP Indonesia karena dinilai melawan hukum. Hakim memerintahkan para tergugat mengeluarkan ganti sebesar Rp 159 miliar sebagai akibat dari perbuatan melawan hukum berdasarkan Pasal 1365 KUHP tentang tiap perbuatan melanggar hukum dan merugikan orang lain. (Erlangga Djumena)